MAIN BASKET KOK PENDEK?
Gue akhirnya memutuskan untuk menulis postingan ini karena sudah cukup lelah ditanya, “Kak, main basket? Kok pendek?”Pertanyaan itu wajar aja, menunjukkan kalo dia orangnya kritis. Dan bikin hati gue sakit kritis.
Sedikit gue jelaskan, dan gue tekankan.
pada awalnya niat gue ikutan basket, waktu itu –sekitar 2006– lagi booming-booming-nya FTV. Ya, tahun itu adalah masa awal kejayaan FTV dan sinetron. Dan sering banget gue lihat yang jadi pemeran utamanya adalah anak basket.
Di FTV itu gue sering melihat anak basket pasti digandrungi cewek-cewek. Cewek yang dijadiin pacar pun bukan cuma satu. Anak basket pasti tinggi, putih, keren. Ternyata, itu membangun pandangan dan stereotip tersendiri di benak para penonton –khususnya yang awam soal basket–. Jadilah mereka menganggap bahwa anak basket itu harus tinggi, harus putih, harus digandrungi cewek.
Tapi kenyataannya berbeda.
Ada satu faktor penting yang dilupakan para penganut stereotip itu, bahwa yang di FTV itu… ganteng. Jadi, nggak bisa diterapkan di kehidupan nyata. Karena orang di kehidupan nyata, ada yang ganteng, ada yang hampir ganteng. Dikit lagi.
Stereotip di atas justru malah membebankan untuk kami –para pemain basket yang nggak tinggi, nggak putih, nggak digandrungi cewek–. Waktu SMP, gue ikutan tim basket sekolah. Dan waktu itu tim sekolah gue juara di wilayahnya. Ada temen gue yang jago banget, sebut aja namanya Fahmi. Dia jadi MVP turnamen, dia mendadak terkenal di sekolah, tapi tetep dia kalah digandrungi dibanding temen setim gue yang lain. Sebut saja namanya Uki, dia sebenernya main basketnya biasa aja, lebih banyak jadi cadangan, bahkan pernah juga beberapa kali jadi cadangan mati alias nggak dimainin sama sekali. Tapi ada satu faktor yang Uki punya tapi Fahmi nggak punya, ganteng.
Seringnya, semua kembali ke tampang.Kadang gue suka kasian sama anak basket yang nggak tinggi, nggak putih, nggak ganteng kalo ditanya, “Main basket? Kok pendek?” Padahal tinggi-pendeknya seseorang kadang bukan dari olahraga apanya, tapi bisa juga dari gen. Banyak yang nggak main basket, nggak ngapa-ngapain, tapi tinggi. Banyak juga yang udah main basket tiap hari, mainnya jago, tapi pendek.
Biasanya orang yang nganggap “orang main basket itu harus tinggi” adalah orang-orang yang cuma tau sedikit tentang dunia basket. Kalo dia paham, pasti dia bukan menilai seorang pemain basket cuma dari posturnya. Toh, dalam permainan basket ada dua posisi yang biasanya diisi sama orang ‘kecil’, yaitu biasanya posisi Point Guard, atau Shooting Guard juga bisa. Dua posisi tadi sering/bisa diisi orang pendek karena biasanya pemain basket yang pendek punya kelebihan yang nggak dipunya pemain besar, misalnya kecepatan, kelincahan, lompatan, dan akurasi shoot jarak jauh.
Memang banyak, banyak banget, pemain basket yang tinggi, ganteng, dan jago, kayak Chandler Parsons, Ricky Rubio, atau sampe Kobe Bryant. Tapi bukan berarti nggak ada pemain basket yang
Semoga setelah membaca ini, kita semua terhindar dari beban bahwa anak basket harus tinggi. Nilailah seorang anak basket dari skill-nya, bisa dari dribble-nya, shoot-nya, lompatnya, larinya, gerakannya, atau apa pun. Sekali-sekali tampang bisa kan jadi faktor terakhir?
Gue, meski pada awalnya ikutan basket cuma buat mencari cinta, pada akhirnya malah jatuh cinta sama basket itu sendiri. Ya meskipun nggak pernah dapet pacar gara-gara basket, tapi gue nggak akan berhenti main basket walau ditanya “Main basket? Kok pendek?” berkali-kali pun, karena gue menyadari main basket bukanlah supaya tinggi, apalagi supaya dapet pacar. Namun gue bermain basket untuk bahagia. Dengan main basket aja, gue sudah cukup bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar